Dosen BK UNIPMA Kenalkan Kotak Konseling Sensorik kepada MGBK Kabupaten Madiun
Universitas PGRI Madiun — Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Madiun (Universitas PGRI Madiun) mengenalkan inovasi “Kotak Konseling Sensorik” kepada Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Madiun pada Kamis (6/8), lalu. Inovasi ini ditujukan untuk membantu pendidik memberikan pendampingan yang lebih adaptif, terutama kepada peserta didik berkebutuhan khusus.
Program tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri atas Dr. Rischa Pramudia Trisnani, M.Pd. sebagai ketua, bersama Silvia Yula Wardani, M.Pd. dan Dr. Noviyanti Kartika Dewi, M.Pd. sebagai anggota. Ketiganya merupakan dosen Prodi BK Universitas PGRI Madiun yang memberikan pelatihan sekaligus pendampingan kepada peserta.
Pelatihan berangkat dari kebutuhan akan pendekatan konseling yang tidak hanya mengandalkan komunikasi verbal. Setiap peserta didik memiliki cara berbeda dalam mengenali dan menyampaikan kondisi emosional sehingga diperlukan sarana pendukung yang sesuai.
Dr. Rischa Pramudia Trisnani, M.Pd., mengatakan pemanfaatan sarana sensorik dapat menjadi alternatif ketika pendekatan percakapan belum cukup membantu. “Sebagian siswa membutuhkan media yang dapat membantu mereka merasa lebih nyaman dan mampu mengekspresikan emosinya,” ujarnya.
Kotak Konseling Sensorik dilengkapi sejumlah perangkat sederhana, seperti stress ball, kartu emosi, benda bertekstur, permainan edukatif, serta alat relaksasi. Perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu anak mengenali perasaan, mengurangi ketegangan, maupun membangun suasana yang lebih nyaman selama sesi pendampingan.
Dalam pelaksanaannya, tim tidak hanya memperkenalkan perangkat tersebut, tetapi juga memberikan pelatihan mengenai cara pemanfaatannya. Peserta diajak memahami fungsi setiap bagian serta menyesuaikan penggunaannya dengan kondisi anak.
Pendekatan sensorik juga tidak terbatas bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Sarana tersebut dapat digunakan dalam situasi tertentu ketika anak membutuhkan cara alternatif untuk mengekspresikan perasaan atau mengelola emosinya.
Dr. Rischa Pramudia Trisnani, M.Pd., berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan dikembangkan setelah pelatihan berakhir. Menurutnya, keberadaan sarana pendukung akan lebih berarti jika penggunaannya disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan individu.
“Guru diharapkan semakin percaya diri dan terampil memberikan layanan yang ramah, adaptif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan setiap siswa,” katanya.
Melalui pengenalan inovasi tersebut, Prodi BK Universitas PGRI Madiun mendorong pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang lebih inklusif di lingkungan sekolah. Pendekatan yang beragam diharapkan dapat memberi ruang bagi setiap anak untuk memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.



